The Real Home Is Family

Sebuah pengalaman amat sangat berharga saya dapat pada Bulan Ramadhan dan lebaran tahun ini. Memang tidak ada yang berbeda dari aktivitas yang saya lakukan dalam menjalani puasa dan merayakan idul fitri tetapi suasana yang saya jalani amat sangat berbeda dari kebiasaan. Kebiasaan yang berbeda disini adalah saya tidak menjalani aktivitas itu semua bersama keluarga saya.

Saya menjalani puasa dan lebaran ini memang berada di rumah yang saya tempati sehari-hari tetapi tidak ada suasana keceriaan di tempat ini hanya ada keheningan yang selalu menemani saya dalam menjalani aktivitas saya. Senang rasanya melihat orang lain dapat berkumpul bersama keluarganya. Keceriaan dan senyuman terlihat pada saat bertemu dan dapat menghabiskan waktu bersama keluarganya. Itulah momen dimana saya disadarkan bahwa saya ternyata amat membutuhkan keluarga saya.

Mungkin dulu saya terlalu egois dengan hanya memikirkan diri saya sendiri, saya tidak pernah berpikir bahwa saya membutuhkan orang tua,kakak dan adik. Saya hanya berpikir bahwa hidup saya itu hanya untuk kesenangan saya sendiri tanpa mempedulikan keluarga saya, saya akan bahagia apabila saya sedang bersama teman-teman saya, tetapi ternyata pemikiran saya itu merupakan sebuah kesalahan yang sangat fatal karena orang tua, kakak dan adik saya sangat mempedulikan saya. Hal ini tersadar pada saat mereka tidak ada di samping saya.

Sedih rasanya menjalani sahur terahir, buka puasa terakhir, sholat ied dan silaturahmi sendirian tanpa ditemani keluarga padahal saya menjalani itu semua di dalam rumah yang disebut orang sebagai tempat yang paling nyaman, tetapi saya tidak merasakan sesuatu yang sangat nyaman. Saya berpikir dengan kondisi seperti ini saya lebih baik tidak berada di dalam bangunan ini karena amat sangat terasa kesedihan yang saya alami, walaupun demikian kondisi ini saya jadikan ajang instrospeksi diri untuk dapat memperbaiki kesalahan saya yang dulu agar dapat memberikan kebahagiaan bagi keluarga saya dan saya yakin walaupun tidak menjalani momen ini secara bersama orang tua, kakak dan adik saya tetap mencintai saya.

Disini lah saya dapat belajar banyak mengenai arti dari sebuah keluarga bahwa keluarga merupakan rumah yang sesungguhnya. Sekarang saya tersadar bahwa tempat yang paling nyaman bukan lah bangunan yang kita tempati tapi keluarga yang selalu memberikan kehangatan.

Betapa beruntungnya orang-orang yang masih dapat berkumpul bersama keluarga di momen-momen yang digunakan untuk kumpul bersama. Pelajaran yang saya dapat pada bulan Ramadhan dan hari lebaran ini adalah sekecil apapun kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Mungkin saya bukan satu-satunya yang mengalami kondisi seperti itu walaupun demikian saya yakin orang-orang yang mengalami kondisi seperti ini pasti menjadikan momen bulan Ramadhan dan lebaran sebagai momen untuk introspeksi diri dan menyadari bahwa keluarga merupakan rumah yang sebenarnya.

Tulisan ini hanya sebuah rangkaian kalimat yang menjadi curahan seorang anak yang memiliki penyesalan karena telah menyia-nyiakan sebuah keluarga. Saya harap tulisan ini dapat berguna bagi setiap anak yang tidak pernah meluangkan waktu untuk keluarga.

Advertisements

About satufajar

Young and Dangerous! i just try to write what on my mind and hope my blog is useful for many people!
This entry was posted in coretan seorang anak and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s