Apa Yang Salah Dari Indonesia?

Terkadang kalimat “Lebih baik saya tidak mengetahui daripada mengetahui tetapi tidak bisa berbuat apa-apa” selalu terlintas ketika kita mempelajari suatu ilmu yang ternyata ilmu membuka pandangan kita bahwa apa yang terjadi saat ini sudah rusak. Lalu pertanyaan yang muncul “apa yang bisa kita perbuat untuk memperbaikinya?”. sebelum menjawab pertanyaan itu harus dijawab terlebih dahulu “apakah kita peduli?”.

Ilustrasi tadi menggambarkan kondisi apa yang saya alami saat ini, terkadang saya ada penyesalan kenapa saya harus melanjutkan studi saya di bidang ilmu hukum setelah saya lulus SMA, tetapi ternyata penyesalan saya ini saya lanjutkan dengan penyelesalan berikutnya kenapa saya memperdalam ilmu hukum tata negara. Entah saya bodoh atau memang saya menyukainya, hingga saat ini saya belum mendapat jawabannya tetapi yang pasti saya menikmatinya.

Dalam memperdalam ilmu ini ternyata saya menyadari bahwa kondisi Indonesia saat ini sudah dapat dikatakan dalam keadaan darurat, semua orang lebih mementingkan kepentingannya dibanding kepentingan yang lebih besar. Terdengar agak tidak realistis ketika saya berharap semua orang tidak mementingkan dirinya sendiri dan peduli akan negara ini. (Mungkin) Saat ini banyak lebih terpikir “negara sudah ada yang mengurusi, mending kita mengurusi urusan kita sendiri” atau “buat apa mikirin negara, toh siapapun pemimpinnya bakal begini-begini saja”. Hal ini yang sering saya dengar ketika saya berdiskusi tentang Indonesia.

Rasa optimis saya bahwa Indonesia dapat diperbaiki ternyata masih ada ketika saya berdiskusi dengan dua orang yang menurut saya masih concern terhadap kemajuan Indonesia. Kedua orang itu merupakan teman pada saat saya menjalani studi di salah satu universitas swasta di Bandung, yang pertama adalah kakak kelas saya dan yang kedua adalah rekan satu angkatan saya sejak SMP yang kemudian bertemu lagi dalam satu almamater di universitas tersebut.

Orang pertama yang saya maksud adalah Michel Toman Indraputra Siahaan. Orang sering memanggilnya Ninno, Ninno merupakan kakak, rekan dan tutor bagi saya dalam mendalami ilmu hukum. Saat ini, Ninno berprofesi sebagai advokat yang berkantor di Bandung yang juga memiliki kantor konsultan bersama saya. Pengalaman beliau dalam berorganisasi pun dapat dijadikan pelajaran oleh saya, yang membuat saya bersyukur adalah beliau tidak ragu untuk memberikan dan mentransfer pengalaman dan ilmu yang beliau miliki kepada saya.

Dalam beberapa kesempatan, saya sering berdiskusi dengan Ninno mengenai Indonesia. Banyak hal yang saya pelajari dari pemikiran Ninno, salah satu kalimat yang selalu pegang hingga saat ini adalah “Kesalahan Indonesia adalah melewatkan salah satu tahap menuju demokrasi, yang hingga saat ini kita belum mengetahui tahap itu karena apabila kita mengetahui tahap itu Indonesia akan menjadi lebih baik”. Kalimat ini yang selalu saya renungkan hingga saat ini karena berdasarkan ilmu yang saya dapatkan sekarang, kalimat tersebut sangat masuk di akal dan sesuai dengan apa yang terjadi saat ini.

Pemikiran tersebut saya kaitkan dengan proses demokrasi yang dijalani setelah era reformasi baru berjalan, dimana demokrasi hanya dimaknai sebagai KEBEBASAN. Makna dari kebebasan inilah yang menurut saya ada salah kaprah dalam pelaksanaannya. Kenapa? karena pemaknaan dari kata kebebasan dari demokrasi itu bukan berarti tidak menghormati dan menghargai keberadaan orang lain.

Indonesia ini merupakan negara hukum yang nyata-nyata tercantum dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, ketentuan ini sebenarnya batasan bagi orang-orang untuk melaksanakan kebebasan agar dalam menggunakan hak untuk kebebasannya itu tetap pada koridornya dengan tidak merugikan hak orang lain.

Menanggapi pemikiran Ninno, saya sepakat dengan pemikirannya tersebut bahwa guna mengontrol kebebasan yang sudah kebablasan ini perlu di cari missing link di antara era orde baru dengan era reformasi. Hingga saya berkesimpulan hal yang salah di Indonesia adalah pelaksanaan reformasi, karena seyogianya pemaknaan dari reformasi adalah memperbaiki yang buruk di era sebelumnya bukan menghilangkan semua yang pernah di lakukan di era sebelumnya walaupun hal tersebut baik untuk kepentingan masyarakat. Saya jadi teringat hasil penelitian yang dilakukan oleh Mochtar Lubis bahwa ciri pertama manusia Indonesia adalah hipokrisi atau munafik.

Di samping memberikan pandangan-pandangan baru, Ninno pun memberikan pelajaran kepada saya mengenai kerja keras. Ninno tidak pernah mengajarkan ini kepada saya melalui kata-kata tetapi dalam tindakannya menunjukkan apabila kita bekerja keras pasti akan menghasilkan sesuatu dan yang terpenting adalah “ketika kita mau, kita pasti bisa”. Hal inilah yang diperlukan untuk merubah kondisi Indonesia.

Dalam beberapa kali diskusi dengan Ninno, pandangan saya semakin terbuka ketika Ninno menunjukkan bahwa dalam memandang hukum itu tidak bisa dalam satu arah karena hukum dapat ditinjau dari beberapa arah. Jika berdiskusi tentang Indonesia, Ninno selalu berposisi sebagai oposisi dari objek yang dibicarakan, walaupun bertindak sebagai oposisi, Ninno tidak pernah melihat kelemahan secara personal dari objek yang didiskusikan tetapi mengkritik kebijakan yang dilakukan dengan pikiran kritis. Hal ini yang membuat saya berpikir sebagai orang yang lebih objektif.

Orang yang kedua adalah Perjuangan Hidup Nasional, dari nama saja sudah menggambarkan bahwa dia adalah orang yang memiliki fighting spirit dalam menjalani hidupnya. Sarjana hukum yang banting setir menjadi seorang pengusaha di bidang properti. Walaupun profesinya tidak terlalu bersentuhan dengan hukum tetapi dia masih memiliki keingintahuan tentang hukum dan selalu mengikuti perkembangan kondisi negara.

Saya merasa orang ini memiliki sesuatu yang dapat dijadikan pelajaran bagi saya ketika kami menjalani kegiatan kemahasiswaan di kampus dimana dalam menjalani kegiatan tersebut, dia tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan tersebut. Apa yang terjadi? dia membuktikan bahwa jika ada kemauan dan ingin belajar akan mengalahkan ketidakpunyaan pengalaman dan pengetahuan. Hal itu yang membuat saya melihat suatu fighting spirit yang harus dimiliki setiap orang.

Fighting spirit yang dia miliki ditularkan kepada saya, salah satu momen yang membuat saya harus memiliki fighting spirit adalah ketika dia mengetahui kejadian yang menimpa keluarga saya dan sebelumnya dia pun pernah merasakan hal yang sama. Dia memberikan perspektif yang berbeda dalam menghadapi masalah ini. Dia mengajarkan saya bahwa kejadian tersebut bukan sesuatu yang harus ditangisi dan larut dalam kepasrahan tetapi tetap harus dijalani dan selalu berusaha agar orang yang kita sayang merasa bahwa berusaha untuk bertahan hidup adalah sesuatu yang sangat berharga. Bukan hidup untuk diri sendiri tetapi hidup untuk orang yang kita sayangi.

Pelajaran yang dapat diambil dari pengalaman pertemanan antara saya dan dia adalah hidup itu harus memiliki tujuan, seperti yang saya bahas di dalam tulisan saya sebelumnya bahwa tujuan hidup itu untuk membahagiakan orang-orang yang kita sayangi bukan sebatas MENDAPATKAN apa yang kita jalani tetapi MEMBUAT sesuatu untuk orang yang kita sayangi. Lebih dalam lagi MEMBUAT sesuatu itu untuk negara bukan hanya untuk orang-orang di sekitar kita.

Dalam beberapa kesempatan, saya dan dia sering kali berdiskusi tentang hukum dan politik yang bermuara pembicaraan tentang negara. Dalam satu kesempatan, saya menjenguk dia di sebuah rumah sakit di Bandung dan kita berdiskusi tentang sosok Presiden Indonesia saat ini. Dalam diskusi tersebut, kami cukup mengagumi Pak Jokowi karena kami sama-sama melihat bahwa Presiden kita saat ini memiliki kecerdasan yang beliau pergunakan untuk masa depan. Dia mengatakan “Jokowi itu pinter, seperti dalam kasus Budi Gunawan. (Mungkin) dalam kasus Budi Gunawan kenapa bisa sampe rame karena memang Jokowi sudah merencanakan itu”. Pendapat itu membuat saya berpikir bahwa ternyata dia cukup concern juga untuk perkembangan negara.

Dari kedua sosok yang saya kagumi tersebut banyak jawaban terhadap pertanyaan APA YANG SALAH DENGAN INDONESIA? saya hanya mendapatkan sebuah jawaban bahwa Indonesia tidak salah, jadi apa yang salah? manusianya.

Saya hanya berharap masih ada orang-orang muda seperti dua sosok yang saya ceritakan karena saya yakin apabila masih ada orang-orang muda yang seperti kedua sosok tersebut maka Indonesia menjadi sesuatu yang akan dibanggakan untuk diceritakan bagi generasi-generasi selanjutnya.

UnknownSaya pun masih memiliki mimpi untuk dapat bekerja sama dengan kedua orang itu secara bersamaan karena saya yakin kedua orang tersebut dapat membimbing saya untuk MEMBUAT sesuatu yang berguna baik orang lain maupun negara. Beberapa kali saya berusaha untuk meyakinkan mereka agar untuk menulis karena saya yakin tulisan-tulisan mereka akan menginspirasi banyak orang. Tulisan mereka akan menjadi tulisan yang berkualitas untuk dapat MEMBUAT atau bahkan merubah sesuatu. Kenapa saya yakini itu? saya mengutip perkataan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

For the last, terkadang kepedulian muncul bukan dari diri kita sendiri. Kepedulian muncul ketika kita kehilangan sesuatu. Apa kita baru akan peduli ketika kehilangan sesuatu? setiap orang punya jawaban masing-masing yang pasti penyesalan muncul ketika kepedulian baru muncul ketika kita kehilangan. Apa kita baru peduli ketika Indonesia sudah hancur?

images

 

Hal yang terpenting untuk menjawab pertanyaan “Apa yang salah dengan Indonesia?” adalah negara tidak akan berubah kalo masyarakatnya tidak mau berubah. Seperti yang dikatakan sastrawan Rusia, “Semua orang berpikir untuk mengubah dunia. Tapi tak satupun berpikir untuk merubah dirinya sendiri”.

 

Sedikit mengutip lirik dari Jonsi “Go do, you’ll learn to”. Lakukan sesuatu dan kamu akan belajar sesuatu. Jika tidak melakukan sesuatu tidak akan belajar apa-apa.

 

Advertisements

About satufajar

Young and Dangerous! i just try to write what on my mind and hope my blog is useful for many people!
This entry was posted in Pemikiran seorang pemuda and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s